MALU KEPADA ALLOH || Kisah Abu Muslim

MALU KEPADA ALLOH

Suatu hari, Abu Muslim tiba di rumahnya dan pada waktu yang sama istrinya pun menyambut dengan wajah layu di depan pintu.

Dengan wajah sedih istrinya berkata “Wahai suamiku, kayu bakar telah habis, dan tidak ada yang bisa kita gunakan untuk menghangatkan tubuh dari musim yang dingin ini.”

Abu muslim menjawab dengan hati pilu “Istriku saat ini, didalam saku ku tidak tersisa sedikitpun uang dinar atau dirham untuk mencukupi kebutuhan kita”

Istrinya pun menyahut “Bagaimana bisa engkau mengeluh fikir dan tidak punya apa-apa, sementara engkau adalah salah satu orang yang paling dekat dan dihormati kholifah? Tolong pergilah kesana dan jelaskan kepadanya keadaan kita , bahwa kita sangat kekurangan, fakir, dan sangat butuh bantuannya. Aku yakin khalifah pasti mau membantu dan tidak akan membiarkan kita hidup fakir seperti ini.”

Abu muslim menjawab, “Na’udzubillah, aku berlindung kepada Alloh jika sampai akau melakukan hal itu, aku sangat malu kepada Alloh, padahala Alloh maha pemurah. Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada selain Alloh.”

Lalu Abu muslim keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid, setibanya di masjid, dia langsung shalat dua rakaat.

Setelah itu berdzikir, beristighfar, dan berdo’a, “Duhai Alloh, ya Robbi, wahai Tuhanku yang maha mengetahui segala rahasia, Engkau Maha tahu bahwa aku malu jika meminta pertolongan selain kepada-Mu. Wahai Tuhan yang sangat luas kemurahannya, karuniakanlah kepadaku gandum, terigu, adas, minyak, dan kayu bakar. Karunikanlah pada istriku, pakain dan kerudung yang layak, dan karuniakan pada anakku pakaian dan sapi untuk diminum susunya. Ya Alloh kabulkan do’a ku. Aaammiinn.”

Disaat yang sama, didalam masjid ada seorang lelaki salah satu pengawal istana khalifah. Pengawal itu merasa aneh mendengar do’a itu, lalu ia bergegas keluar masjid dan lengsung menuju istana. Dia ingin menemui khalifah untuk menceritakan apa yang ia dengar selama didalam masjid.

Begitu sampai di hadapan khalifah, dia berkata “Wahai khalifah aku melihat seorang lelaki berada di masjid, juga terdengar olehku lelaki tersebut sedang bedoa pada Tuhannya  dan meminta hal-hal yang aneh”

Lalu pengawal tersebut menceritakan hal-hal yang diminta oleh lelaki itu  (yang tak lain ia adalah Abu Muslim) kepada khalifah.

Ketika mendengar hal-hal yang diminta itu, khalifah pun tertawa dan langsung menebak dengan yakin, lalu ia berkata “Aku yakin, aku tahu siapa lelaki yang berdoa’a di dalam masjid itu. Aku yakin dia adalah Abu Muslim. Dia seorang lelaki yang sangat malu kepada Alloh. Sekarang coba kau ulangi lagi isi dari do’anya. Aku ingin mengirim apa yang ia butuhkan, lalu tolong kirim secepatnya sebelum dia keluar dari masjid. Lalu dari satu hal yang dia minta maka kirim dua.”

Sementara itu, Abu muslim tetap berada di dalam masjid beberapa saat lamanya untuk membaca Al qur’an dan berdo’a kepada Tuhannya. Setelah dirasa cukup lama, dia keluar dari masjid beranjak ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia disambut istrinya dengan penuh rasa gembira, sang istri tersenyum hangat Bahagia.

Istrinya berkata, “Coba engkau renungkan wahai suamiku, sekarang kita tidak kekurangan lagi. Ini tak lain karena engkau mau mendengar nasihatku. Akhirnya, engkau pergi juga kan ke tempat khalifah.”

Abu muslim terkejut sangat hebat dengan ucapan istrinya. Dia bersumpah bahwa dia tidak pergi menemui sang khalifah. Bahkan, dia tidak berjumpa dengannya selama satu minggu.

Istrinya pun bingung lalu bertanya, “Kalu begittu, ceritakanlah kepadaku, kemana engkau pergi dari tadi? Kepada siapa engkau mengadu?”

Abu muslim menjawab, “Sungguh aku tidak pergi kemanapun kecuali ke masjid untuk mengadukan keadaan kita kepada Alloh SWT. Sebagaimana ketahui selama ini wahai Ummu muslim, aku sangat malu kepada Alloh kalau saja sampai Dia melihat aku minta tolong kepada selain Dia.”

Seketika istrinya meneteskan air mata, terharu penuh rasa syukur kepada Alloh dan berterima kasih kepada suaminya, dan berkata, “Wahai suamiku betapa mulia jiwamu!  Alangkah indahnya perbuatanmu wahai suamiku! Alangkah maha pengasihnya Alloh yang tidak pernah melupakan hamba-Nya.”

Teman-teman yang baik hati, dari kisah di atas kita bisa belajar bahwa pentingnya melabuhkan semua harapan hanya kepada Alloh, dan kita tidak pantas berharapa ke selain Alloh. Tentunya jika kita berharap ke salain Alloh maka sama saja kita menunggu rasa kecewa yang disengaja.

 

By. M U S A

 

Semoga Bermanfaat

Salam Hangat,

SMK Daarut Tauhiid

 

Klik untuk mengetahui

Instagram SMK DT

Tiktok SMK DT

Youtube SMK DT

Jurnal OSIS SMK DT

Instagram OSIS SMK DT

Youtube OSIS SMK DT

Add a Comment

Your email address will not be published.